Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Karya Guru SD, Rahasia Fano


Sekolah Dasar – Cerpen Karya Guru SD, Rahasia Fano. Cerpen ini adalah satu dari sekian judul cerpen karya Yulinda Dwi Cahyani, S.Pd.SD. Buku dari cerpen ini sudah diterbitkan dan ber ISBN.





Cerpen Karya Guru SD, Rahasia Fano
Rahasia Fano - cepren katya guru SD





Rahasia Fano





Fano berteriak senang karena berhasil membuat Banu menangis. Banu yang tinggi besar tubuhnya, siswa Kelas IV Sekolah Dasar, dibuat tak berdaya oleh Fano. Banu diejek bertubuh tambun seperti gajah dan lambat bergerak, jika mengikuti pelajaran Olah Raga. Fano bertubuh kecil dan kurus, tapi mempunyai keberanian ekstra untuk melakukan bullying atau perundungan kepada teman-teman sekelasnya.





                “Punya tubuh tinggi besar, tapi seperti perempuan!” ejek Fano puas dan makin bersemangat.





Kinanti berlari mengejar Pak Darso Wali Kelas, yang sedang berjalan menuju Kantor Guru.





“Ada apa, Kinan?” tanya Pak Darso.





“Banu menangis karena diejek Fano, Pak.” lapor Kinanti.





 “Kembali ke kelas, Kinanti. Teman-temanmu diminta tidak gaduh, ya. Nanti biar Pak Guru yang memanggil Fano dan Banu.” lanjut Pak Darso.





                Kakek Fano tergesa-gesa menemui Pak Darso. Ayah dan Ibu Fano bekerja bekarja di luar negeri, Fano diasuh oleh Neneknya.





“Maafkan cucu saya, Pak Guru. Kami sebagai keluarganya telah berusaha menasehati Fano. Namun sepertinya diabaikan oleh Fano. Neneknya terlalu sayang padanya sehingga sering memanjakanya” kata Kakek Fano menjelaskan.





“Anak seusia Fano sedang bersiap untuk beralih ke masa remaja, namun masih lebih dominan sifat kekanak-kanakkannya. Perlu figur orang tua sebagai pendamping, yang dapat menjadi teladan dan memberikan contoh konkret dalam memandang segala sesuatu. Beberapa anak cenderung menolak nasihat, Pak.” jelas Pak Darso.





Kakek Fano mengernyitkan dahi, “Maaf, maksud Pak Darso bagaimana?”





“Misalnya, saat Kakek mendampingi Fano menonton televisi, lalu ada tokoh dalam film, seorang anak dengan hidung pesek, maaf, lalu Fano mengejek. Ini sudah termasuk body shaming, penghinaan terhadap bentuk tubuh seseorang. Sebaiknya Bapak menjelaskan bahwa hidung itu ciptaan Allah, yang tidak bisa kita ubah bentuknya sesuka hati kita.”





                Kakek Fano mengangguk paham.  Selama ini orang tua Fano dan saya sendiri terlalu terlalu sibuk, sehingga tidak  pernah mengajarkan Fano berkata baik terhadap segala sesuatu. Sang Nenek pun, membiarkan Fano sesuka hati berkomentar tentang segala hal, asal Fano senang.





                “Fano tidak masuk sekolah, Pak Guru. Tadi Neneknya kemari mengantar Surat Keterangan Dokter.” kata Kinanti Sang Ketua Kelas, saat pak Darso memanggil nama Fano pada kegiatan presensi di pagi hari.





Esoknya, Fano tertegun melihat hasil Ulangan Tengah Semesternya. Fano tidak belajar materi kisi-kisi dari Pak Darso. Fano takut menyampaikan kepada Kakek dan Neneknya. Tidak seorang pun teman sekelasnya mengejek nilai Fano, tapi tidak seorang pun juga yang bersedia membantunya memfotokopikan materi sebelum Ulangan Tengah Semester. Bahkan saat Fano sakit dan tidak masuk sekolah, teman-teman sekelasnya enggan dekat-dekat dengan Fano karena hampir semuanya pernah menjadi ‘korban’ ejekannya. Fano takut tidak naik kelas. Kakek Fano telah mengetahui hasil Ulangan Tengah Semester Fano dari Pak Darso.





Suatu sore di hari Minggu, Kakek Fano mengajak Fano sholat berjamaah di Masjid. Diajaknya Fano menemui Kak Esa, salah satu santri yang tinggal di Masjid. Kak Esa masih bersekolah, tetapi saat sore hari, dia mengajar mengaji bagi anak-anak yang mau belajar padanya. Dengan memadatkan jadwal kegiatan Fano, Kakeknya berharap Fano dapat lebih fokus belajar, berkegiatan positif dan bertambah teman baru.





“Kita bermain sebentar selesai mengaji ya, adik-adik.” kata Kak Esa.





“Permainan apa, Kak Esa.” anak-anak riuh bersahutan.





“Kalian perkenalkan nama satu per satu, lalu kalian sebutkan, hal positif apa yang kalian rasakan ada pada diri kalian. Misalnya, nama saya Fano, saya gemar membaca buku cerita, karena saya jadi bisa bercerita untuk menenangkan adik, saat tengah ditinggal oleh Ayah dan Ibu.” Kak Esa menerangkan.





 “Besok kalian sebutkan, siapa teman yang duduk di sebelah kalian sore ini, dan hal positifnya apa. Supaya kalian saling kenal. Ayo dimulai dari Badu!” lanjut Kak Esa bersemangat.       





Fano termenung, hingga Badu, teman sebelahnya menyenggolnya dengan siku, “Giliranmu, Fano.” Fano kaget, lalu tersenyum malu.





Kak Esa bertubuh tinggi besar, tetapi Fano tidak melihat ada yang aneh pada diri Kak Esa. Kak Esa pandai mengaji dan hobi menggambar. Fano kerap melihat hasil karya Kak Esa, dan membuat Fano kagum.





“Gambar Kak Esa bagus.” ujar Fano.





Kak Esa tersenyum girang, bukan karena Fano memuji gambarnya, tetapi karena Fano telah berkata manis padanya.





“Alhamdulillah, terima kasih, Fano.” ucap Kak Esa.





Di sekolah Fano jadi pendiam. Teman-temannya heran. Fano tidak lagi suka berlarian di dalam kelas saat tak ada guru. Semua teman-temanya aman, tak mendengar lagi ejekan Fano. Kinanti ingin bertanya, tapi dipendamnya. Tak seorang pun teman sekelasnya tahu, ada apa dengan Fano. Hanya Pak Darso yang tahu rahasia Fano, bahwa sekarang Fano telah berubah. Fano menganggap teman-temannya sebagai mitra belajar dan bermain, bukan sebagai obyek ejekan. Ternyata, selama ini orang tua Fano kurang memperhatikan cara Fano bersikap dan bertingkah laku. Sedikit demi sedikit Fano mengerti, bahwa menghina teman, sama saja dengan menghina makhluk ciptaan Allah.






“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka





(yang mengolok-olokkan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.





Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.





” [al-hujurat/49 : 11].





Demikian Cerpen Karya Guru SD, Rahasia Fano. Semoga menjadi bahan bacaan. Sertakan Link aktif jika ingin mengambil sebagian maupun seluruh Cerpen ini.





Cerpen Lainya :










Posting Komentar untuk "Cerpen Karya Guru SD, Rahasia Fano"